Cloudera dan MII Tawarkan Cloudera Anywhere Cloud: Dampak Nyata AI

Cloudera menyebutkan untuk mendapatkan dampak nyata AI yang positif bagi bisnis, para perusahaan umumnya perlu memanfaatkan data perusahaan yang proprietary dan dijaga keamanannya. Cloudera menjelaskan ada tiga hambatan dalam memanfaatkan data perusahaan yang proprietary untuk mendapatkan dampak nyata AI yang positif bagi bisnis. Ketiga hambatan tersebut adalah data yang terfragmentasi, friksi dalam integrasi AI, dan kedaulatan digital. Selain itu, Cloudera menyoroti pula biaya inferensi AI yang meningkat.

Data yang terfragmentasi merujuk pada data yang tersebar dan terisolasi di sejumlah tempat. Friksi dalam integrasi AI maksudnya aneka mesin dan model AI serta data yang beroperasi dalam isolasi menyulitkan membawa AI ke lingkugan produksi. Kedaulatan digital merujuk pada alat-alat public cloud yang tidak memenuhi persyaratan kedaulatan menurut regulasi. Biaya inferensi AI yang meningkat maksudnya biaya langganan layanan AI—berbasis cloud—yang bertambah karena biaya token AI yang meningkat. Cloudera Anywhere Cloud diklaim bisa mengatasi hambatan-hambatan ini.

“Setiap perusahaan, mau itu highly regulated, any industry, pasti ada yang namanya tadi tuh, sovereign, sovereign terkait datanya, intellectual property-nya nih, yang biasa kita sebut adalah proprietary dan secure enterprise data,” ujar Rudy Tanuwidjaja (Director of Solution Engineering, Cloudera Indonesia) sembari menambahkan data yang dimaksud berada di pusat data privat.

“Teman-teman bisa bayangin contohnya misalnya kayak di banking, pasti ada data yang, data customer ya, data transaksi ya kan, data-data yang related dengan, ya secure-lah enterprise PDP tadi, nggak mungkin data ini, dia bisa naikin nih ke atas gitu ya [ke public cloud] untuk mengembangkan use case. Biasanya nggak boleh. Nah, hambatan-hambatan inilah kondisi yang kenapa banyak customer yang struggle, gitu ya istilahnya, ketika mengembangkan use case AI yang ada innovation-nya, ada value-nya,” lanjutnya.

Terdapat tiga karakteristik dan empat fitur Cloudera Anywhere Cloud yang diungkapkan Cloudera yang membuatnya bisa mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Ketiga karakteristik Cloudera Anywhere Cloud yang dibagikan adalah hibrida secara default, modular secara rancangan, dan kedaulatan berdasarkan deployment. Sementara itu, empat fitur Cloudera Anywhere Cloud yang disampaikan adalah tata kelola yang terpadu, AI-enabled secara rancangan, portabilitas hibrida, dan agen-agen AI yang domain-specific.

Hibrida secara default maksudnya para perusahaan bisa menempatkan data maupun menjalankan beban-beban kerja AI di berbagai lingkungan: aneka public cloud, pusat data privat, dan sovereign infrastructure. Modular secara rancangan merujuk pada para perusahaan bisa memilih modul-modul yang digunakan, baik dari Cloudera maupun entitas-entitas lain. Kedaulatan berdasarkan deployment maksudnya para perusahaan bisa menaruh data maupun menjalankan beban-beban kerja AI di lingkungan-lingkungan yang memberikan kedaulatan sesuai regulasi, seperti di suatu sovereign infrastructure.

Adapun tata kelola yang terpadu merujuk pada tata kelola dan keamanan siber yang dari ujung ke ujung. AI-enabled secara rancangan maksudnya terdapat AI yang membolehkan interaksi dengan bahasa alami dan agen AI yang membantu penggunaan alat-alat dan agen-agen AI yang tepat. Portabilitas hibrida merujuk ke deployment pada berbagai lingkungan yang konsisten. Agen-agen AI yang domain-specific maksudnya terdapat aneka agen AI yang ditujukan untuk keperluan-keperluan berbeda.

“Melalui kemitraan strategis ini, organisasi di Indonesia dapat memanfaatkan kelincahan cloud-native dengan kemudahan operasional yang serba praktis dan langsung di aset data proprietary mereka, di mana pun data tersebut berada, tanpa beban migrasi yang mengganggu maupun ketergantungan pada vendor. Langkah ini memungkinkan perusahaan di Indonesia untuk mempercepat inisiatif agentic AI di tingkat produksi dengan time-to-value yang lebih cepat, sekaligus tetap menjaga kedaulatan digital tanpa kompromi, tata kelola zero-trust, serta kendali penuh atas data sensitif mereka,” pungkas Sherlie.