BAKTI Komdigi (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital) telah memperluas akses internet ke daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia. Dilakukan antara lain dengan membangun ribuan BTS 4G, hal tersebut membolehkan masyarakat di sana untuk hidup lebih baik. Mereka misalnya tidak perlu lagi pergi jauh ke lokasi tertentu untuk terkoneksi ke internet dan mencari informasi. BAKTI dan sejumlah pihak lain mengungkapkan hal ini pada BAKTI Media Connect 2026 yang berlangsung kemarin di Jakarta.
“Pada prinsipnya, BAKTI ini membangun di wilayah yang menjadi prioritas layanan publik Saat ini BAKTI sudah membangun akses internet di 31 ribu lebih lokasi yang sebagian besar ada di sektor pendidikan, 68%, kemudian fasyankes, 5,89%, … ada 19,94 [%] kantor pemerintahan, pusat kegiatan masyarakat misalnya pasar-pasar tradisional, kemudian tempat ibadah, pos-pos pertahanan dan keamanan, lokasi wisata, pelayanan usaha, dan transportasi publik,” ujar Fadhilah Mathar (Direktur Utama BAKTI Komdigi).
“Lokasi penyediaan sinyal 4G … itu ada 6.747 lokasi atau desa dan selanjutnya ada lokasi Palapa Ring, 131 lokasi, tapi yang menjadi kota atau kabupaten layanan ada 57, satu, satu kota dan 56 kabupaten. Yang terakhir, yang bisa membuat kami menjadi lebih cepat dalam menggelar konektivitas digital, itu adalah kehadiran SATRIA-1. Kehadiran SATRIA-1, ini membuat kita bisa menggabungkan solusi tereste, terestrial dengan solusi nonterestrial pada saat wilayah-wilayah itu memang masih sangat sulit dijangkau oleh fiber,” lanjut Fadhilah.
Sekadar informasi, BAKTI menjelaskan Palapa Ring merupakan jaringan serat optik yang membentang sepanjang 12.148 kilometer di darat dan laut serta berfungsi sebagai tulang punggung koneksi. Adapun SATRIA (Satelit Republik Indonesia)-1 adalah satelit multifungsi yang menjadi penopang utama daerah-daerah yang sulit terkoneksi dengan koneksi terestrial.
Sementara itu, penyediaan sinyal 4G, BAKTI mengingatkan BAKTI adalah agensi yang membiayai, melakukan, dan mengelola. Core network seluruhnya dimiliki oleh operator seluler di Indonesia seperti Telkomsel. Kolaborasi tersebut menunjukkan pentingnya KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha).
BAKTI pun menegaskan bukan sekadar membangun akses internet di daerah-daerah 3T, melainkan memiliki prinsip tertentu dalam melakukan pembangunan yang dimaksud. Terdapat empat prinsip, yakni keterjangkauan (affordability) masyarakat, kualitas layanan, mendorong skalabilitas UMKM, serta keberlanjutan industri—jangan sampai mematikan lahan komersial.
Sejalan dengan prinsip pembangunan BAKTI, sejak tahun 2024, BAKTI mengeklaim telah memiliki exit strategy yang bertujuan mengalihkan pengelolaan. Wilayah-wilayah dengan kriteria tertentu dan tingkat kematangan tertentu, BAKTI akan menawarkannya kepada vendor, operator, atau mitra lain untuk diambil alih. Dengan exit strategy ini, BAKTI menyebutkan ratusan BTS 4G telah diambil alih oleh pihak lain dan bukan di bawah kendali BAKTI lagi. BTS 4G pada 6.747 desa yang disebutkan Fadhilah yang akrab disapa Indah ini adalah yang hingga sekarang masih di bawah kendali BAKTI.
BAKTI menambahkan keberlanjutan infrastruktur digital di daerah 3T membutuhkan model kolaborasi strategis lintas sektor. Sinergi antara pemerintah pusat melalui BAKTI, pemerintah daerah, serta operator seluler seperti Telkomsel dinilai menjadi kunci pemeliharaan aset jangka panjang.
Tidak Perlu Lagi Panjat Pohon
Sementara itu, perihal manfaat dari akses internet yang dihadirkan BAKTI di daerah-daerah 3T dikemukakan oleh Kabupaten Flores Timur yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Parigi Moutong yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah. Flores Timur berfokus pada manfaat BAKTI AKSI di sekolah dan puskesmas, sedangkan Parigi Moutong berfokus pada manfaat BAKTI Sinyal dalam membuka keterisolasian komunikasi dan informasi serta pemberdayaan masyarakat.
