Mekari Siap Bantu Para Perusahaan di Indonesia Adopsi AI dengan Optimal

Mekari belum lama ini di Jakarta mengungkapkan sebagian besar unit usaha di Indonesia belum memiliki fondasi yang bisa mendukung AI (artificial intelligence) secara optimal. Mekari menilai hal ini menghambat adopsi AI yang efektif oleh para perusahaan bersangkutan. Dengan berbagai produk yang ditawarkan, Mekari menegaskan bisa dan siap membantu para perusahaan tersebut untuk memiliki fondasi yang mendukung AI secara optimal dus membantu mengadopsi AI secara optimal.

“Konteks Indonesia itu, kita bisa lihat bahwa dari jumlah pemain, usaha yang terdaftar, jadi dari usaha mikro, UKM, ataupun perusahaan besar, itu di Indonesia itu jumlahnya ada sekitar 64 sampai 66 juta ya, yang terdaftar seperti itu, tetapi itu termasuk sektor pertanian, perikanan itu semua termasuk,” sebut Suwandi Soh (Chief Executive Officer Mekari).

“Kalau kita lihat yang relatif formal lah ya, yang aktif melakukan transaksi dan sebagainya, di sini ada sekitar 17 juta. Jadi, termasuk online seller atau mereka yang freelancing, itu semua masuk ke sini lah ya, itu ada sekitar 17,5 juta dari 6, dari seluruh 64 juta populasi usaha ini. Nah, sebagian besar, itu kalau dari datanya, itu memang belum memiliki sistem katakanlah sistem bisnis yang formal. Nah, sebenarnya AI itu akan sangat efektif pada saat kita memiliki pondasi-pondasi itu,” lanjutnya sembari menekankan data adalah bagian penting dari fondasi yang dimaksud.

Sejumlah pihak memang menyebutkan AI sebagai data plus komputasi. Dengan kata lain tanpa data yang baik, AI tidak akan memberikan hasil yang baik; tanpa data perusahaan yang tepat, AI yang dipakai sang perusahaan tidak akan memberikan hasil yang tepat untuk bisnis perusahaan bersangkutan.

“Di area bisnis, biasanya itu mereka lebih, lebih jauh implementasinya, karena mereka ingin konteks jawabannya sesuai dengan situasi perusahaannya kan. Jadi, misalnya contoh, saya ingin tahu ‘eh berapa sih laba rugi saya bulan lalu?’ Sebenarnya AI bisa jawab, tapi kalau kita nggak connect data ini kemana-mana, ya AI nggak bisa jawab,” jelas Suwandi. “Jadi, untuk AI bisa membantu perusahaan untuk bisa tumbuh, salah satu syaratnya sebenarnya adalah AI tersebut harus mendapatkan input yang bagus juga. Nah, saat ini input yang bagus, itu tentu saja dari data-data internal perusahaan tersebut.”

Berawal dari tahun 2015, kini Mekari mengeklaim menawarkan 12 produk. Ke-12 produk ini pun dalam satu ekosistem yang membolehkan integrasi yang baik. Data dari satu produk misalnya bisa diberikan dengan mudah ke produk lain. Namun, Mekari memastikan suatu perusahaan bisa menggunakan satu atau lebih produk sesuai dengan kebutuhan maupun keinginan, tidak harus seluruhnya.

Produk-produk tersebut adalah Mekari Talenta untuk SDM dan penggajian, Mekari Jurnal untuk akutansi dan operasional, Mekari Qontak untuk CRM (customer relationship management) dan layanan penlanggan, Mekari Klikpajak untuk manajemen pajak, Mekari Flex untuk fleksibilitas manfaat karyawan, Mekari Expense untuk manajemen pengeluaran, Mekari Sign untuk tanda tangan digital, Mekari Capital untuk pembiayaan bisnis, Mekari Officeless untuk aplikasi yang customized, Mekari Pay untuk manajemen transaksi, Mekari Desty untuk omnichannel commerce, serta Mekari POS untuk POS (point of sale).

Menilik situs Mekari; pada tahun 2015; Talenta, Sleekr, dan Jurnal hadir sebagai produk SaaS (software as a service) dengan entitas perusahaan yang berbeda. Pada tahun 2018, ketiganya bergabung menjadi entitas baru bernama Mekari. Sekarang menawarkan 12 produk, Mekari pun memastikan ke-12 produk tersebut memiliki infrastruktur untuk data dan AI yang mumpuni: bisa mendukung AI secara optimal dus bisa mendukung adopsi AI yang optimal.

“Kita juga multidomain, gak cuman single domain. Jadi, mungkin banyak players di luar sana cuman HR aja, atau cuman accounting aja. Jadi, datanya silo, per, per divisi aja. Nah, kalau kita ini kan end-to-end, dari mulai sales, marketing, finance, terus juga ada akutansi juga. Jadi, semuanya itu terakumulasi dengan baik gitu, makanya AI nya lebih akurat, hasilnya juga lebih baik, sehingga keputusannya bisa dibikin lebih matang juga secara manajemennya,” kata Arvy Egadipoera (Chief Operating Officer Mekari) sembari mengeklaim Mekari sebagai pemimpin pasar untuk SaaS di Indonesia.

Sebagai penyedia SaaS—diklaim AI-first SaaS, Mekari menyebutkan pula menggunakan sejumlah public cloud populer sebagai pusat data untuk menjalankan produk-produk yang ditawarkan. Namun, bila awalnya Mekari hanya menggunakan public cloud, kini Mekari juga mendukung on-premises. Dukungan on-premises ini sejalan dengan Mekari yang beberapa tahun terakhir turut menyasar segmen enterprise. Sebelumnya Mekari berfokus pada segmen UMKM. On-premises contohnya digunakan bila suatu enterprise memiliki aturan untuk menyimpan data di server yang berada di dalam bangunan fisik perusahaan.