STT GDC Ekspansi STT Jakarta Campus: Menuju Kampus Pusat Data > 360 MW

STT GDC beberapa waktu lalu di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat melakukan peluncuran resmi STT Jakarta 2, penyelesaian pembangunan struktur utama STT Jakarta 3, serta peletakan batu pertama STT Jakarta 5 dan STT Jakarta 6. STT Jakarta 2, STT Jakarta 3, STT Jakarta 5, dan STT Jakarta 6 adalah pusat data STT GDC yang terletak di STT Jakarta Campus di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Ekspansi STT Jakarta Campus ini membantu kampus pusat data tersebut menuju kapasitas > 360 MW untuk memenuhi kebutuhan akan pusat data di Indonesia.

Menilik situs STT GDC, STT GDC merencanakan STT Jakarta Campus untuk memiliki sembilan pusat data dengan kapasitas daya yang beragam. Sebelum peluncuran resmi STT Jakarta 2, penyelesaian pembangunan struktur utama STT Jakarta 3, serta peletakan batu pertama STT Jakarta 5 dan STT Jakarta 6 ini; STT Jakarta Campus telah memiliki sebuah pusat data yang beroperasi, yakni STT Jakarta 1.

STT GDC (ST Telemedia Global Data Centres) yang berkantor pusat di Singapura tersebut mengeklaim STT Jakarta 1 mendukung beban TI (IT load) hingga 18 MW. Sementara STT Jakarta 2 yang kini juga sudah beroperasi, STT GDC mengeklaim STT Jakarta 2 mendukung beban TI hingga 24 MW. Kedua pusat data tersebut sewajarnya membuat STT Jakarta Campus kini bisa mendukung beban TI setidaknya hingga 42 MW.

Adapun STT Jakarta 3, STT Jakarta 4, STT Jakarta 5, STT Jakarta 6, STT Jakarta 7, STT Jakarta 8, dan STT Jakarta 9; berdasarkan situs STT GDC pula; masing-masing dirancang untuk mendukung beban TI hingga 24 MW, 48 MW. 40 MW. 40 MW, 60 MW, 60 MW, dan 60 MW. Bila seluruh pusat data yang masih dalam pembangunan ini nantinya beroperasi sesuai dengan yang dirancang STT GDC, STT Jakarta Campus akan mendukung beban TI hingga 374 MW alias > 360 MW.

“Hari ini kita tidak hanya merayakan satu tonggak sejarah, melainkan empat. Empat pencapaian. Kami meluncurkan STT Jakarta 2, kami menyelesaikan struktur utama STT Jakarta 3, kami memulai pembangunan STT Jakarta 5 dan 6. Empat tonggak sejarah, satu kampus, dalam satu hari,” ujar Bruno Lopez (President and Group Chief Executive Officer STT GDC). “Ini adalah pernyataan tentang apa yang kami yakini akan menjadi masa depan Indonesia. Ekonomi digital negara ini diproyeksikan mencapai US$130 miliar tahun ini.”

Sejumlah stakeholder ekspansi STT Jakarta Campus.
Bruno Lopez (President and Group Chief Executive Officer STT GDC; ketiga dari kiri), Saribua Siahaan (Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia; keempat dari kiri), Kwok Fook Seng (Duta Besar Singapura untuk Indonesia; kelima dari kiri), dan Hendrikus Hendra Gozali (Country Head STT GDC Indonesia; kanan) berfoto bersama beberapa stakeholder lain usai peresmian STT Jakarta 2.

Artificial intelligence, AI diperkirakan akan berkontribusi secara signifikan terhadap PDB seiring berjalannya waktu. Pemerintah, melalui Visi Indonesia Emas 2045 dan strategi nasional AI, telah menempatkan infrastruktur digital di pusat dari ambisi-ambisi pembangunan jangka panjang bangsa. Ini bukanlah proyeksi-proyeksi yang kita amati dari kejauhan. Mereka adalah alasan mengapa kita berada di sini, berinvestasi sebelum permintaan muncul,” tambahnya.

Pemerintah Indonesia pun mengungkapkan menyambut baik peluncuran STT Jakarta 2 dan pembangunan STT Jakarta 3, STT Jakarta 5, dan STT Jakarta 6. Selain membantu memenuhi permintaan akan pusat data di tanah air, pemerintah berharap pula pembangunan pusat-pusat data di Indonesia bisa membantu pencapaian target investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perkembangan investasi dalam pusat data di Indonesia telah menjadi salah satu dari sembilan program presiden dalam mendukung ekosistem ekonomi digital nasional. Pertumbuhan e-commerce, sistem artificial intelligence, dan layanan berbasis cloud di Indonesia menjadi pendorong utama dari meningkatnya permintaan akan layanan pusat data setiap tahunnya,” kata Saribua Siahaan (Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia).

“Faktor-faktor geopolitik, hubungan, hubungan, ketahanan energi, dan transisi menuju energi terbarukan telah menjadi daya tarik utama bagi para investor global untuk mendirikan pusat data di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mendukung pembangunan pusat data, mulai dari layanan perizinan hingga insentif pajak. Diharapkan tren pembangunan pusat data di Indonesia di masa depan akan berkontribusi terhadap pencapaian target investasi dan target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah,” sambung Saribua.