Hypernet Luncurkan TokenKu.ai, Atasi Permasalahan Implementasi AI

Hypernet Technologies belum lama di Jakarta resmi meluncurkan TokenKu.ai di tanah air. MSP (managed service provider) di bawah naungan XLSMART tersebut menjelaskan TokenKu.ai sebagai satu gateway untuk semua model AI (artificial intelligence). Hypernet mengeklaim managed AI marketplace ini memberikan akses terintegrasi ke sekitar 145 model AI global melalui satu portal dengan sistem kendali terpusat. Hypernet menegaskan TokenKu.ai memudahkan para perusahaan mengatasi aneka permasalahan implementasi AI.

Mengutip laporan dari studi AWS (Amazon Web Services) bersama Strand Partner bertajuk “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026”, Hypernet menyebutkan sekitar 40% perusahaan di Indonesia sudah mengadopsi AI. Sebagian besar dari mereka pun mengeklaim AI membantu mereka mendapatkan produktivitas yang meningkat, inovasi yang lebih cepat, dan pendapatan yang bertumbuh.

Namun, Hypernet mengungkapkan banyak perusahaan di tanah air yang mengalami berbagai permasalahan dalam implementasi AI. Beberapa di antara permasalahan implementasi AI yang dimaksud adalah pemilihan model-model AI yang tepat, pengelolaan model AI yang banyak, serta kontrol biaya dan akses AI yang tersebar. Hal-hal ini bisa membuat suatu perusahaan menggunakan model-model AI yang berlebih serta memiliki biaya AI yang berlebih.

“Jadi, gara-gara habis pakai AI, mungkin over-billing, over- subscribe, dimarah-marahin sama atasannya gitu ya. Nah, ini yang kita mau launching hari ini ya, sesuatu solusi platform yang bisa memberikan jawaban atas bagaimana kita me-manage AI dengan lebih efektif, lebih cost-efficient, dan pastinya memberikan produktivitas,” ujar Sudianto Oei (CEO Hypernet Technologies).

Tiga Akar Masalah

Meski jenis permasalahan yang dihadapi berbeda antara perusahaan-perusahaan besar dengan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, Hypernet mengeklaim ada tiga hal yang menjadi akar masalah implementasi AI di lapangan bagi banyak perusahaan di Indonesia. Ketiga hal tersebut adalah pembayaran, keamanan, dan manajemen.

“Jadi, masing-masing punya challenge-nya sendiri gitu kan. Nah, yang kita lihat secara root cause-nya, sebenarnya mau dia bisnis besar, bisnis kecil, ujung-ujungnya, pada saat adopt new technology, pasti akan punya problem challenge-nya ya. Jadi, ada tiga yang kita lihat, terutama dari sisi secara market AI: payment [pembayaran], security [keamanan], dan management [manajemen],” jelas Sudianto.

Sudianto Oei (CEO Hypernet Technologies).
Sudianto Oei (CEO Hypernet Technologies).

Pada pembayaran, Hypernet memaparkan banyak perusahaan mengalami permasalahan karena tidak menggunakan akun dan rekening perusahaan yang tunggal untuk AI. Pada banyak perusahaan, para karyawan/departemen menggunakan akun dan rekening pribadi untuk AI. Hal ini menyulitkan sang perusahaan melakukan pembayaran karena berupa reimburse pengeluaran-pengeluaran AI para karyawan sesuai dengan rekening pribadinya masing-masing. Reimburse menambah proses, belum lagi jumlahnya yang banyak.

Hypernet juga mengungkapkan metode pembayaran yang umumnya didukung aneka platform AI, yakni kartu kredit, yang diklaim bukan metode umum pembayaran banyak perusahaan. Begitu pula mata uang yang umumnya didukung, yaitu dolar Amerika Serikat yang kursnya fluktuatif, serta bukti pembayaran dalam nama karyawan dan tidak adanya faktur pajak.

Pada keamanan—keamanan siber, Hypernet menyoroti risiko kebocoran data dari penggunaan AI pada banyak perusahaan. AI yang mumpuni membutuhkan data yang mumpuni. Begitu pula AI yang digunakan suatu perusahaan: AI tersebut membutuhkan data perusahaan agar bekerja baik. Namun, mengunggah data ke sembarang AI memiliki risiko data tersebut bocor lebih besar. Pada suatu perusahaan yang menggunakan berbagai AI dengan akun-akun pribadi karyawan, memastikan setiap karyawan yang memanfaatkan aneka AI yang dimaksud untuk tidak mengunggah data perusahaan ke sembarang AI adalah sulit.