SEAPPI dan OpenAI: Kesenjangan Kapabilitas AI di Indonesia adalah Besar

Mengutip Kearney, SEAPPI menambahkan AI berpotensi memberikan kontribusi hingga US$366 miliar terhadap PDB Indonesia pada tahun 2030. Angka tersebut diklaim lebih dari sepertiga total kontribusi AI yang diproyeksikan terhadap perekonomian Asia Tenggara. SEAPPI menegaskan merealisasikan peluang yang dimaksud memerlukan adopsi dan implementasi AI pada tingkat yang lebih tinggi—lebih tinggi dari penggunaan dasar—pada berbagai sektor perekonomian.

White paper Closing the AI Capability Gap in Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat kesiapan Indonesia dalam melangkah dari adopsi AI menuju pemanfaatan yang lebih mendalam dan bermakna. Hal ini tentunya sejalan dengan prioritas Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pusat aplikasi AI di ASEAN, yang perlu didukung dengan penguatan kapabilitas komputasi, transfer dan pengembangan teknologi bersama, serta akses terhadap investasi dan pasar yang memberikan manfaat timbal balik,” sebut Edwin Hidayat Abdullah (Direktur Jenderal Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia).

Empat Sektor Berskala Paling Besar

Terdapat empat sektor yang diyakini SEAPPI dengan use case yang memiliki peluang peningkatan akses terhadap AI serta pemanfaatan AI tingkat lanjut berskala paling besar di tanah air. Keempat sektor tersebut adalah sektor publik, pendidikan, layanan kesehatan, dan jasa keuangan. Sektor publik memiliki peluang untuk peningkatan akses terhadap AI dengan skala paling besar; sedangkan sektor pendidikan, layanan kesehatan, dan jasa keuangan memiliki peluang untuk pemanfaatan AI tingkat lanjut dengan skala paling besar dus peluang untuk peningkatan produktivitas dengan skala paling besar.

“Data kami menunjukkan bahwa pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut, termasuk pemrograman dan analisis data,” ungkap Sandy Kunvatanagarn (Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI). “Namun, penggunaan tingkat lanjut ini masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil. Peluang berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut dapat diakses oleh lebih banyak orang dan organisasi.”

Diskusi panel menutup kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia.
Diskusi panel tetang menutup kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia.

Pada sektor publik, SEAPPI menyebutkan use case AI yang terbukti memang ada, tetapi penerapannya masih bersifat sporadis dan belum institusional. SEAPPI menilai sektor publik di Indonesia berpeluang untuk memperluas jangkauan dan cakupan AI dengan memperluas mandat pemanfaatan teknologi AI di seluruh kementerian dan lembaga serta, sejalan dengan itu, membangun kesadaran di kalangan ASN akan manfaat AI dalam pekerjaan pemerintahan sehari-hari.

Pada sektor pendidikan, SEAPPI mengatakan Indonesia menempati peringkat sepuluh besar dunia dalam penggunaan AI. Namun, menurut data OpenAI, keterlibatannya sebagian besar bersifat informal dan didorong oleh para peserta didik. SEAPPI mengungkapkan terdapat peluang untuk memanfaatkan AI pada tingkat institusional dan menggunakannya dalam kerangka pedagogis yang sesuai dengan usia para peserta didik.

Pada sektor layanan kesehatan, SEAPPI mengemukakan peluang jangka pendek adalah memperluas penggunaan AI dari sekadar penggunaan tunggal (single-purpose diagnostic) menjadi teknologi yang mendukung tenaga kesehatan dan memperkuat penyediaan layanan kesehatan primer di tanah air, khususnya di wilayah dengan keterbatasan jumlah dokter.

Sementara pada sektor jasa keuangan, SEAPPI mengungkapkan perihal kerangka AI OJK. SEAPPI menilai kerangka ini memiliki peluang untuk membuat sektor jasa keuangan beralih dari tahap uji coba menuju penerapan secara komprehensif: memosisikan sektor jasa keuangan sebagai sektor pertama di Indonesia yang beroperasi mendekati tingkat tertinggi global dalam penggunaan AI tingkat perusahaan.