SEAPPI (Southeast Asia Public Policy Institute) dan OpenAI baru-baru ini pada sebuah acara di Jakarta mengungkapkan terdapat kesenjangan kapabilitas AI (artificial intelligence) di Indonesia yang besar. Didefinisikan sebagai perbedaan antara kapabilitas sebenarnya yang bisa diberikan oleh AI dengan penggunaan aktual oleh para pengguna secara umum, SEAPPI dan OpenAI pun membagikan dua hal utama yang diyakini bisa menutup kesenjangan kapabilitas AI tersebut dus meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan ekonomi Indonesia.
SEAPPI menjelaskan kesenjangan kapabilitas AI diukur dari kedalaman penalaran AI yang digunakan, ragam tugas yang dikerjakan dengan bantuan AI, serta tingkat adopsi teknologi AI yang dimanfaatkan. Hal ini bisa tercermin dari kesenjangan antara para pengguna AI dalam memanfaatkan AI. Berdasarkan analisis platform OpenAI, SEAPPI menemukan pengguna pada persentil ke-95 (5% teratas) di Indonesia memanfaatkan token penalaran (thinking token) sekitar sebelas kalinya pengguna median.
Bukan hanya itu, SEAPPI menemukan pula para pengguna tingkat lanjut di Indonesia telah beroperasi pada salah satu tingkat tertinggi (frontier) di dunia. Menurut data OpenAI, SEAPPI menambahkan Indonesia menempati peringkat lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analitik data, dengan sekelompok pengguna tingkat lanjut telah menerapkan AI tepat pada jenis tugas kompleks bernilai tinggi dan meningkatkan produktivitas secara drastis.
Hal-hal ini menunjukkan kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia adalah besar: hanya segelintir pengguna AI di tanah air yang sudah memanfaatkan kapabilitas sebenarnya yang bisa diberikan oleh AI, sedangkan sebagian besar lainnya belum. Begitu pula dengan pengentasan kesenjangan tersebut bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan sejalan dengan itu ekonomi Indonesia.

Sementara itu, dua hal utama yang diyakini bisa menutup kesenjangan yang dimaksud adalah memperluas akses terhadap AI serta mendorong pemanfaatan AI tingkat lanjut. SEAPPI menyebutkan tanpa akses terhadap AI yang mumpuni, baik bagi para pekerja maupun organisasi, peningkatan produktivitas yang ditawarkan oleh teknologi tersebut akan sulit dicapai. SEAPPI juga menyebutkan pemanfaatan AI tingkat lanjut memanfaatkan AI pada tugas-tugas yang bersifat kompleks, bernilai tinggi, dan menimbulkan dampak paling besar.
Namun, SEAPPI menegaskan kesenjangan kapabilitas AI bukan hanya persoalan individu, melainkan juga organisasi. Begitu pula di Indonesia. Kesenjangan kapabilitas AI tidak akan bisa ditutup hanya dengan memberikan akses dan meningkatkan keterampilan para individu. Para organisasi pun membutuhkan fondasi digital yang kuat, talenta-talenta dengan keterampilan yang sesuai, ruang-ruang untuk mendorong aneka inovasi lokal, serta aturan-aturan yang jelas untuk mendukung penerapan AI secara bertanggung jawab.
Perihal kesenjangan kapabilitas AI dan pengentasannya ini sendiri termaktub pada white paper bertajuk “Closing the AI Capability Gap in Indonesia”. White paper tersebut disusun dan ditulis oleh SEAPPI dengan dukungan dari OpenAI, bekerja sama dengan Vriens & Partners. Acara ini membagikan temuan-temuan di sana. Informasi dan analisis yang disajikan dalam white paper bersangkutan diklaim didasarkan pada wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan swasta, informasi yang tersedia untuk publik, serta analisis dari para penulis.
“Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI,” kata Ed Ratcliffe (Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper) sembari menekankan 50% pekerja di tanah air menggunakan AI setiap minggu. “Tahap berikutnya adalah membantu lebih banyak orang dan organisasi memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks. Hal ini membutuhkan keterampilan praktis, panduan yang jelas bagi sektor dengan regulasi ketat, serta koordinasi yang lebih erat di lintas instansi pemerintah. Hal ini sejalan dengan berbagai rekomendasi kami yang berfokus pada area tersebut.”
