Di tengah tekanan untuk mempercepat transformasi digital, banyak organisasi menghadapi tantangan yang sama: bagaimana mengadopsi AI (artificial intelligence) tanpa harus meningkatkan anggaran TI secara signifikan. Menurut Rimini Street, jawabannya bukan selalu menambah investasi baru, melainkan memaksimalkan nilai dari sistem enterprise yang telah dimiliki.
Han Tiong-Law (Regional Vice President and General Manager Southeast Asia and Greater China Rimini Street) mengatakan banyak perusahaan masih menganggap modernisasi identik dengan mengganti sistem ERP ke versi terbaru. Padahal, sistem ERP yang telah digunakan selama 10 hingga 15 tahun umumnya masih mampu menjalankan fungsi bisnis inti dengan baik apabila dikelola dan dioptimalkan secara tepat.
“Tujuan kami adalah membantu pelanggan memperpanjang masa manfaat ERP yang sudah mereka miliki sehingga investasi baru dapat dialokasikan untuk inovasi yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis,” ujarnya.
Dari Biaya Operasional Menuju Inovasi
Rimini Street mengembangkan pendekatan yang disebut Smart Path, yaitu membantu organisasi mempertahankan sistem ERP yang stabil sekaligus mengoptimalkan investasi TI agar dana yang sebelumnya digunakan untuk pemeliharaan dan upgrade dapat dialihkan ke inovasi strategis seperti agentic AI, otomatisasi, analitik, dan transformasi digital.
Menurut Han, banyak organisasi terdorong mengikuti siklus upgrade yang ditentukan vendor, meskipun sistem yang digunakan masih memenuhi kebutuhan operasional. Pendekatan tersebut sering kali memerlukan investasi besar tanpa menghasilkan manfaat bisnis yang sepadan.
Sebaliknya, Rimini Street mendorong perusahaan melakukan upgrade hanya ketika benar-benar memberikan nilai bisnis, bukan semata-mata karena berakhirnya dukungan dari vendor.
Optimalisasi Lebih Penting daripada Mengganti Sistem
Bagi Rimini Street, optimalisasi bukan sekadar menjaga ERP tetap berjalan, tetapi memastikan seluruh kapabilitas yang sudah dimiliki organisasi benar-benar dimanfaatkan.
Melalui discovery workshop bersama tim bisnis dan TI, Rimini Street mengidentifikasi berbagai peluang peningkatan pada proses seperti order-to-delivery, finance, hingga procure-to-pay. Dalam banyak kasus, organisasi sebenarnya telah memiliki modul ERP—seperti production planning, warehouse management, atau transportation management—yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Dengan mengaktifkan kemampuan yang sudah tersedia, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus membeli solusi baru. Namun, bila organisasi membutuhkan kemampuan yang belum dimiliki sistem ERP, Rimini Street bisa menambahkan kemampuan yang dimaksud dengan biaya yang relatif ringan.
Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan dengan AI
Han menegaskan bahwa AI bukan jawaban untuk setiap tantangan bisnis.
Sebelum merekomendasikan AI, Rimini Street terlebih dahulu mengevaluasi apakah suatu persoalan lebih tepat diselesaikan melalui penyempurnaan proses bisnis, workflow automation, application management, atau memang memerlukan agentic AI. AI baru diterapkan apabila terdapat kebutuhan bisnis yang jelas dan hasil yang dapat diukur.

Pendekatan tersebut juga menjadi alasan Rimini Street menggunakan metodologi discovery-led, yang dimulai dari identifikasi masalah bisnis, pemetaan proses, kebutuhan data, hingga penentuan area yang benar-benar memperoleh manfaat dari AI.
Mengapa Banyak Proyek AI Gagal?
Mengacu pada temuan studi MIT yang menunjukkan sebagian besar proyek GenAI gagal berkembang dari tahap pilot, Han menilai penyebab utamanya bukan terletak pada teknologinya.
Menurutnya, banyak organisasi memulai implementasi AI tanpa mendefinisikan secara jelas permasalahan yang ingin diselesaikan, nilai bisnis yang ingin dicapai, maupun proses yang akan dioptimalkan. Selain itu, dokumentasi mengenai alur kerja, peran pengguna, dan titik-titik hambatan sering kali belum tersedia secara memadai.
Tanpa fondasi tersebut, implementasi AI berisiko menjadi sekadar eksperimen teknologi yang sulit memberikan dampak nyata bagi organisasi.
Penghematan Menjadi Sumber Pendanaan Inovasi
Salah satu nilai utama yang ditawarkan Rimini Street adalah membantu perusahaan mengurangi biaya pemeliharaan ERP sekaligus menghindari proyek migrasi yang belum diperlukan.
Han menjelaskan bahwa pelanggan dapat memperoleh penghematan biaya yang signifikan dibandingkan kontrak dukungan dari vendor asli, tergantung pada kondisi lingkungan TI dan kebutuhan masing-masing organisasi. Dana yang dihemat tersebut kemudian dapat dialokasikan kembali untuk mendukung modernisasi aplikasi, keamanan siber, otomatisasi, maupun implementasi AI.
Selain itu, Rimini Street memberikan dukungan tidak hanya terhadap SAP dan Oracle, tetapi juga pada antarmuka, integrasi, serta custom code yang menjadi bagian penting dari operasional enterprise.
Indonesia Memiliki Peluang Besar
Han melihat Indonesia sebagai salah satu pasar yang sangat potensial seiring meningkatnya dorongan pemerintah terhadap implementasi Industry 4.0 dan AI.
Menurutnya, karakter perusahaan di Indonesia yang pragmatis dan sensitif terhadap biaya membuat pendekatan optimalisasi investasi menjadi makin relevan dibandingkan strategi transformasi yang mengharuskan penggantian sistem secara menyeluruh. Karena itu, Rimini Street terus memperkuat investasinya di Indonesia melalui pengembangan tim lokal, aktivitas business development, dan perluasan ekosistem mitra.
Bagi Rimini Street, transformasi digital bukanlah tentang mengganti teknologi yang masih berfungsi dengan baik, melainkan tentang memastikan setiap investasi TI menghasilkan nilai bisnis yang maksimal. Dengan mengoptimalkan ERP yang sudah ada dan mengadopsi AI secara bertahap berdasarkan kebutuhan bisnis, organisasi dapat mempercepat inovasi sekaligus menjaga efisiensi dan keberlanjutan investasi teknologi.
