Jebakan token dan biaya yang meningkat maksudnya bagaimana para organisasi memperoleh biaya pemanfaatan AI yang bisa diperkirakan dan ekonomis. Cloudera mengatakan pemanfaatan AI yang berbasiskan token bisa menimbulkan biaya yang tinggi, apalagi bila penggunaannya kurang terkontrol. Begitu pula biaya sewa public cloud. Cloudera mengungkapkan mengatasi tantangan tersebut dengan membolehkan para organisasi memanfaatkan model-model AI yang gratis pada pusat data on-premises mereka.
Gap prototipe merujuk pada bagaimana para organisasi mencegah celah kinerja maupun hasil pemanfaatan AI yang diperoleh antara AI pada prototipe dan AI pada produksi. Cloudera mengeklaim menawarkan platfrom yang mendukung production-ready AI dengan availability, scaling, dan pemantauan yang tersedia secara built-in. Dengannya, Cloudera mengemukakan membolehkan prototipe sampai deployment dan pemantauan aplikasi AI pada satu platform dus membolehkan para organisasi mencegah gap prototipe.
“AI membutuhkan data yang berkualitas dan memadai,” ucap Sherlie Karnidta (Country Manager Indonesia, Cloudera). Di Cloudera, kami membantu pelanggan membangun fondasi AI yang kuat, yaitu tata kelola data, proses, dan tahapan implementasi yang matang, sebelum membangun berbagai use case AI mereka.”
Cloudera pun mengeklaim tahun 2025 lalu sebagai tahun terbesarnya. Cloudera menyebutkan telah membantu mengelola sekitar 30 exabyte (30 x 1018 byte) data dan memperoleh pendapatan lebih dari US$1 miliar. Cloudera menyebutkan para perusahaan yang merupakan 2.000 perusahaan global teratas adalah konsumennya. Begitu pula berbagai organisasi di tanah air. Dua di antaranya adalah BCA (Bank Central Asia) dan BNI (Bank Negara Indonesia). Keduanya turut hadir pada EVOLVE Forum di Jakarta.
BNI: Empat Faktor
BNI mengemukakan empat faktor yang membuat BNI menggunakan Cloudera. Pertama, sebelum menggunakan Cloudera, BNI menyebutkan memiliki data yang banyak dan tersebar di berbagai tempat. Kedua, BNI menilai perlunya mendapatkan nilai dari data. Ketiga, BNI menekankan pentingnya memenuhi regulasi. Keempat, BNI mengatakan AI membutuhkan infrastruktur yang mumpuni.
BNI menegaskan Cloudera membolehkan BNI menjawab keempat faktor tersebut. BNI menyebutkan Cloudera membolehkan BNI melakukan konsolidasi data, mendapatkan nilai dari data, memenuhi regulasi, serta menghadirkan infrastruktur yang mumpuni untuk AI. BNI pun memastikan menggunakan Cloudera membolehkan BNI memanfaatkan AI untuk aneka hal, termasuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Cloudera menambahkan BNI merupakan salah satu organisasi pertama di dunia yang menggunakan layanan Cloudera AI Inference untuk menjalankan LLM (large language model) open-source di lingkungan cloud maupun pusat data milik BNI sendiri. Cloudera menyebutkan layanan Cloudera AI Inference dibangun di atas NVIDIA NIM.

Adapun salah satu manfaat yang diklaim BNI dari pemanfaatan AI/data analytics yang dilakukannya adalah meningkatnya nilai likuiditas BNI. BNI mengatakan likuiditasnya secara kasar meningkat sekitar 29% dibandingkan tahun 2024. BNI menegaskan data dan AI menjadi enabler bagi bisnisnya.
“Nah kita melihat memang biz impact di likuiditas kita itu juga cukup baik, dibandingkan 2024 itu kita meningkat hampir sekitar 29%-an secara apa, kasar gitu ya. Dan itu menjadi sinyal yang baik bahwa ternyata dengan kita meng-engage customer lebih bagus, efisiensi kita lakukan, even kita juga melihat pengurangan dari sisi LAR-nya kita, jadi, atau loan at risk-nya kita, jadi, itu menjadi salah satu impact positif bagaimana data, AI, itu menjadi enabler dari sisi bisnis,” ujar Handika Hakim (SVP AI & Data Analytics Division, BNI).
BCA: Analisis Data
BCA mengatakan memiliki sejumlah faktor yang membuat BCA menggunakan Cloudera dan sebagian dari faktor tersebut adalah serupa dengan yang diutarakan BNI. Namun, secara khusus BCA mengedepankan dua faktor, yakni big data dan AI. Sebelum menggunakan Cloudera, BCA memiliki platform yang kurang mumpuni untuk big data dan AI. BCA ingin bisa mengumpulkan data dalam skala besar dan dalam waktu yang lebih lama, serta menganilis data dalam jumlah lebih besar.
BCA memastikan Cloudera membolehkan BCA untuk mengumpulkan data dalam skala besar dan dalam waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Begitu pula membolehkan BCA menganalisis data dalam jumlah besar, lebih besar dari sebelumnya.
Secara spesifik, untuk analisis data dalam jumlah besar yang dimaksud, BCA menyebutkan menggunakan CML (Cloudera Machine Learning). BCA mengeklaim bila sistem sebelumnya mengalami kegagalam menganalisis data dalam jumlah besar tatkala transaksi harian BCA masih 60-an juta, CML bisa melakukannya meski kini transaksi harian tersebut telah mencapai 270-an juta.
BCA pun menegaskan menggunakan Cloudera secara cukup komprehensif, termasuk untuk AI. Seperti BNI, penggunaan AI ini adalah untuk internal dan untuk para konsumen: meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pendapatan.
“Use case AI itu bukan hanya buat internal, bukan hanya improvement buat internal, untuk manpower, productivity dan sebagainya, tapi juga sudah masuk ke customer gitu. Jadi, bagaimana meningkatkan customer experience, bagaimana kita melihat opportunity business untuk revenue growth gitu ya, untuk CASA gitu,” ungkap Lily Wongso (EVP Enterprise IT & Data Management, BCA).
Sementara itu, salah satu manfaat yang diklaim BCA dari pemanfaatan AI yang dilaksanakannya adalah meningkatnya efisiensi proses di BCA. BCA mengatakan berbagai pemanfaatan AI untuk efisinsi proses di BCA berhasil meningkatkan efisiensi setidaknya 30%, dengan penigkatan tertinggi mencapai 80%.
