IBM CEO Study: AI Mendorong Para CEO untuk Menata Ulang Peran C-suite

IBM IBV (Institute for Business Value) belum lama ini merilis sejumlah temuan dari studi terbarunya, IBM CEO Study, yang melibatkan 2.000 CEO global, termasuk Indonesia. Disampaikan melalui rilis, IBM CEO Study tersebut menunjukkan percepatan perkembangan AI (artificial intelligence) mendorong para CEO untuk menata ulang peran C-suite di organisasinya agar dapat menciptakan dampak bisnis yang lebih besar di seluruh organisasi.

“Peran CEO selalu identik dengan kemampuan memimpin di tengah disrupsi. Yang berubah lewat kehadiran AI adalah kecepatan dan besarnya dampak dari kepemimpinan itu sendiri. Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang mengadopsi pendekatan AI-first, bukan sekadar menjadikan AI sebagai lapisan teknologi tambahan, melainkan sebagai model operasional baru,” kata Gary Cohn (Vice Chairman, IBM).

“Proses pengambilan keputusan akan bergerak makin cepat, batas antar fungsi dalam organisasi akan makin melebur, dan keunggulan akan dimiliki oleh perusahaan yang mampu belajar, beradaptasi, serta mengeksekusi lebih cepat dibandingkan kompetitornya,” lanjut Gary.

Beberapa temuan utama dari para responden di Indonesia:

  • Sebanyak 80% CEO menyatakan AI mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka.
  • Sejumlah 90% CEO secara aktif mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja untuk mendorong efisiensi dan efektivitas operasional.
  • Sekitar 30% CEO menempatkan AI dan modernisasi teknologi sebagai prioritas strategis dalam 3 tahun ke depan.
  • Sebanyak 65% CEO mengaku nyaman mengambil keputusan strategis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI.
  • Sejumlah 65% responden menilai kedaulatan AI menjadi bagian penting dalam strategi bisnis.
  • Para CEO menyebut baru sekitar 26% tenaga kerja yang menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaan, meskipun 80% percaya karyawan mereka telah memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan AI.
  • Sebanyak 35% CEO mengatakan produktivitas dan profitabilitas sebagai tantangan terbesar organisasi dalam 3 tahun mendatang.

“Para CEO di Indonesia terus mempercepat ambisi mereka dalam pemanfaatan AI, dengan  melampaui tahap uji coba dan mulai menempatkan AI sebagai penggerak utama kepemimpinan, daya saing, serta kinerja bisnis,” ucap Catherine Lian (General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN).

“Yang menonjol bukan hanya tingkat kepercayaan mereka terhadap AI, tetapi juga bagaimana teknologi ini mulai diintegrasikan secara serius dan terukur ke dalam keputusan strategis maupun operasional sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa AI kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai eksperimen, melainkan telah menjadi prioritas bisnis,” tambahnya.

Temuan lain terkait kepemimpinan di Indonesia meliputi:

  • Sekitar 85% responden menilai para pemimpin di setiap fungsi bisnis perlu memiliki pemahaman teknologi yang kuat di bidangnya masing-masing.
  • Di organisasi yang telah memiliki CAIO (Chief AI Officer), seluruh CEO di Indonesia memperkirakan peran tersebut akan makin strategis hingga tahun 2030.
  • Sejumlah 60% CEO memperkirakan peran CHRO (Chief Human Resources Officer) akan makin penting dalam beberapa tahun ke depan.
  • Sebanyak 70% responden menilai peran kepemimpinan talenta dan teknologi akan makin terintegrasi.

Dari sisi tenaga kerja, temuan di Indonesia mencakup:

  • Sejumlah 75% CEO menyatakan keberhasilan AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibandingkan teknologinya sendiri.
  • Antara tahun 2026 hingga 2028, para responden memprediksikan 30% karyawan perlu menjalani pelatihan keterampilan baru untuk menjalankan peran yang berbeda.
  • Antara tahun 2026 hingga 2028, para CEO juga memperkirakan 52% karyawan membutuhkan peningkatan keterampilan agar dapat menjalankan pekerjaan mereka saat ini secara lebih efektif.

“Tteknologi saja tidak cukup untuk menciptakan dampak nyata. Keberhasilan implementasi AI akan sangat ditentukan oleh bagaimana para pemimpin memberdayakan talenta, merancang ulang peran, menyempurnakan proses kerja, serta menerapkan AI secara bertanggung jawab di seluruh organisasi,” tegas Juhi McClelland (Managing Director, IBM Consulting Asia Pacific).