Jelang THR, VIDA Luncurkan Kampanye Anti-Scam “Jangan Asal Klik”

VIDA meluncurkan kampanye layanan masyarakat bertajuk “Jangan Asal Klik” di Jakarta pada Senin, 10 Maret 2026, sebagai respons atas meningkatnya risiko penipuan digital menjelang pencairan THR (tunjangan hari raya). Kampanye anti-scam ini diluncurkan bersamaan dengan penerbitan whitepaper bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook” yang memetakan pola dan tren penipuan digital di kawasan Asia Tenggara.

“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” ujar Teguh Afriyadi (Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia).

Sejalan dengan meningkatnya risiko penipuan digital menjelang THR, Whitepaper VIDA menyoroti fenomena yang disebut “payday pulse”, yakni pola peningkatan risiko penipuan digital yang berulang hampir setiap bulan pada rentang tanggal 25 hingga 28, selaras dengan periode pencairan gaji. Pola ini, menurut VIDA, mengindikasikan bahwa aksi penipuan makin terencana dan mengikuti momentum finansial masyarakat. Whitepaper tersebut bisa diakses melalui laman ini.

“Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat,” kata Victor Indajang (Chief Operating Officer VIDA).

Jumlah penipuan digital di Indonesia pun tidak sedikit. Data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang turut dikutip pada peluncuran kampanye bersangkutan, mencatat kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun, berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama November 2024 hingga akhir 2025. Modus yang paling umum meliputi phishing, investasi bodong, serta penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.

Adapun berdasarkan data CekRekening.id yang dikumpulkan sepanjang 2017 hingga 31 Oktober 2025, menurut laporan aduan terkait nomor rekening bank dan dompet digital yang terindikasi digunakan dalam penipuan secara total, aplikasi perpesanan menjadi kanal yang paling banyak dignakan dengan total 396.691 laporan. Media sosial berada di posisi berikutnya dengan 281.050 laporan. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku penipuan digital kerap memanfaatkan kanal yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.

Kampanye “Jangan Asal Klik”

Kampanye “Jangan Asal Klik” dikemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami yang ditujukan untuk lintas generasi, dengan fokus pada pengguna muda yang aktif di media sosial dan aplikasi perpesanan. Dalam konteks Ramadan, kampanye ini menekankan bahwa keamanan digital juga merupakan bagian dari menjaga amanah. Ramadan diklaim juga tentang menjaga kepercayaan dan melindungi keluarga dari risiko finansial akibat scam.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan memeriksa apakah tautan maupun dokumen yang dibagikan melalui aplikasi perpesanan, media sosial, dan kanal lainnya terindikasi mencurigakan atau tidak sebelum mengambil tindakan. Kampanye “Jangan Asal Klik” mengingatkan masyarakat untuk jangan asal klik:

  • Jangan klik tautan dari pesan tidak dikenal, apalagi yang menciptakan rasa panik.
  • Jangan bagikan OTP, PIN, maupun kode verifikasi dalam bentuk apa pun.
  • Waspadai berkas berekstensi APK maupun dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan.
  • Verifikasi ulang setiap permintaan transfer dana, meskipun mengatasnamakan orang yang dikenal.

“Kami percaya kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan,” tutup Victor.