Jobstreet by SEEK: Tahun 2026, AI Mengubah Definisi Kompetensi

Jobstreet by SEEK belum lama membagikan melalui rilis sejumlah tren rekrutmen tahun 2026. Dua dari sejumlah tren rekrutmen 2026 tersebut adalah perihal AI (artificial intelligence) dan peningkatan keahlian (upskilling). Hal-hal ini tentunya bisa menjadi masukan bagi masyarakat Indonesia dan berbagai perusahaan di tanah air dalam strategi rekrutmennya.

AI Bukan Lagi Sekadar Alat Rekrutmen

Jobstreet by SEEK menyebutkan tahun 2026 adalah fase optimalisasi dari AI. Jobstreet by SEEK menambahkan pada tahun 2023 sampai 2025 lalu adalah fase pengenalan dari AI. Jobstreet by SEEK menegaskan AI kini bukan lagi sekadar alat bantu rekrutmen, tetapi telah mengubah definisi kompetensi itu sendiri. Data dari Jobstreet by SEEK menunjukkan bahwa dengan meningkatnya penggunaan AI dalam beberapa tahun terakhir, 71% perusahaan di Indonesia saat ini juga mempertimbangkan pengetahuan AI para kandidat saat merekrut.

“Dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI tentunya akan semakin dibutuhkan lintas fungsi. AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan. Kuncinya terletak pada AI literacy (kecakapan AI), data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas,” kata Wisnu Dharmawan (Acting Managing Director untuk Indonesia, Jobstreet by SEEK).

Bagi tenaga kerja, evolusi AI pada rekrutmen para perusahaan di Indonesia, membuat tenaga kerja di tanah air perlu mulai berinvestasi pada keahlian AI. Apalagi Jobstreet by SEEK menilai evolusi tersebut akan membuat pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif rutin makin tergerus otomatisasi. Nilai tambah manusia akan bergeser ke kemampuan analisis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan pengambilan keputusan berbasis data. Tenaga kerja di tanah air pun perlu mulai berinvestasi pada aneka keahlian ini.

Perusahaan Perlu Melakukan Peningkatan Keahlian

Jobstreet by SEEK mengatakan strategi suatu perusahaan untuk mempertahankan para karyawan pata tahun 2026 juga berevolusi seperti halnya AI yang berevolusi. Jobstreet by SEEK menekankan suatu perusahaan kini tidak bisa lagi pasif dalam mempertahankan para karyawan seperti sebelumnya.

Para perusahaan perlu mengidentifikasi apakah berbagai tim di masing-masing perusahaan memiliki “keahlian-keahlian senja” alias aneka keahlian rutin yang mudah diotomatisasi. Jika hal ini dimiliki, suatu perusahaan harus proaktif melakukan peningkatan keahlian internal daripada sekadar merekrut pekerja-pekerja baru. Jobstreet by SEEK menyarankan para perusahaan untuk fokus pada kombinasi keahlian teknis, seperti cloud dan keamanan siber, serta human skills, seperti komunikasi dan kolaborasi.

“Cara sederhananya, bandingkan deskripsi pekerjaan di perusahaan dengan lowongan terkini di pasar tenaga kerja. Bila pasar mulai menuntut elemen AI, data, atau cloud yang belum dimiliki tim saat ini, itu sinyal perlunya program upskilling terarah dari perusahaan,” pungkas Wisnu Dharmawan.