Mengeklaim sebagai pemimpin global dalam bidang platform pengembangan low-code bertenaga AI, OutSystems beberapa hari lalu melalui rilis membagikan prediksi AI (artificial intelligence) tahun 2026 untuk bisnis dari jajaran pemimpin eksekutifnya. Para petinggi OutSystems tersebut memberikan prediksi bagaimana AI akan mentransformasi pemanfaatan AI di tingkat bisnis serta menata ulang peran para pengembang. Prediksi ini bisa menjadi masukan bagi para perusahaan dan pihak lainnya di tanah air.
OutSystems menambahkan prediksi yang dimaksud mencakup peningkatan risiko shadow AI dan pentingnya tata kelola AI di perusahaan, pergeseran menuju agentic system yang terspesialisasi dan berbasis industri, serta evolusi platform low-code berbasis AI. OutSystems menegaskan seluruh perkembangan ini menandai perubahan mendasar dalam cara suatu perusahaan membangun, menerapkan, dan mengelola perangkat lunak di lingkungan produksi.
Terdapat empat petinggi OutSystems yang membagikan prediksi AI tahun 2026 untuk bisnis. Keempat pemimpin eksekutif tersebut adalah Woodson Martin (CEO OutSystems), Luis Blando (CPTO OutSystems), Tiago Azevedo (CIO OutSystems), dan Miguel Baltazar (VP of Developer Relations OutSystems). Berikut ini adalah prediksi dari masing-masing petinggi, seperti yang dikutip dari rilis.
Woodson Martin
Secara garis besar, Woodson Martin menegaskan bahwa shadow AI berpotensi menjadi masalah yang jauh lebih serius dibandingkan shadow IT pada era sebelumnya. Para pengguna nonteknis yang kini bisa menghasilkan kode produksi dan alur kerja secara langsung melalui aneka LLM (large sanguage model) menghadirkan risiko yang jauh lebih berbahaya dibandingkan penggunaan SaaS (software as a service) tanpa izin.
Jika sebelumnya penggunaan suatu aplikasi atau peranti lunak tanpa izin hanya dianggap sebagai gangguan teknis, keberadaan suatu model dan agen AI tanpa penjagaan membawa risiko besar bagi perusahaan. Jika tidak ada pengawasan ketat, para pengguna dapat memanfaatkan LLM yang tidak teruji untuk menghasilkan kode pemrograman siap pakai, membangun alur kerja otonom, dan memicu kebocoran data sensitif. Ancaman ini bersifat laten, menyebar cepat, dan dampaknya tidak terhitung secara finansial maupun reputasi.
Luis Blando
Luis Blando memperkirakan masa depan pengembangan AI akan lebih terspesialisasi dan berorientasi pada kebutuhan spesifik setiap industri. Pada tahun 2026, pengembangan AI akan memprioritaskan spesialisasi dan bukan lagi penggunaan serbaguna. Solusi AI akan difokuskan pada beban kerja tertentu yang mampu memberikan hasil dengan lebih cepat dan lebih akurat untuk fungsi bisnis spesifik. Percakapan seputar AI pun diperkirakan akan bergeser dari hiruk pikuk pencarian satu “model terbaik” menuju pendekatan yang lebih matang dalam pemilihan dan integrasi teknologi.
Bagian dari pergeseran ini adalah munculnya AI vertikal, yakni pemanfaatan model yang dilatih dengan bahasa, alur kerja, dan data khusus suatu industri sehingga mampu menyelesaikan tantangan yang sulit ditangani oleh AI generik. Perusahaan-perusahaan yang memastikan aneka solusi tersebut tangguh dan mampu menghadapi variasi data dunia nyata sesuai dengan tugas spesifiknya, akan berada di posisi yang unggul pada tahun 2026.
Tiago Azevedo
Tiago Azevedo memprediksikan agentic AI akan berperan dalam “memanusiakan kembali” para perusahaan. Agentic AI diperkirakan akan makin cepat mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan berulang pada tahun 2026, seiring dengan matangnya teknologi dan makin umum digunakannya solusi multiagen. Hal ini akan memberi lebih banyak ruang bagi manusia untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan interaksi antarmanusia yang autentik.
Seiring perubahan tersebut, keterampilan lunak yang hanya dimiliki manusia, seperti kolaborasi, adaptabilitas, kecerdasan emosional, dan pengambilan keputusan, akan menjadi lebih bernilai dan dibutuhkan. Sebagai contoh, ketika proses administratif dalam onboarding dan pengelolaan talenta ditangani oleh agen AI, para pemimpin SDM memperkirakan peningkatan produktivitas hingga 30% per karyawan. Selain itu, sekitar 23% tenaga kerja diproyeksikan akan beralih ke peran baru yang lebih mampu memaksimalkan potensi dan keunggulan manusia.
Miguel Baltazar
Berfokus pada pengembang, Miguel Baltazar menilai tahun 2026 sebagai tahun berakhirnya burnout di kalangan pengembang. Survei tahun 2024 terhadap lebih dari 600 rekayasawan menunjukkan bahwa hampir 65% di antara mereka mengalami burnout, meskipun organisasi mereka telah memanfaatkan AI dalam proses pengembangan. Kondisi ini dipicu oleh tidak meratanya tingkat keandalan alat pengembangan berbasis AI generatif. Walaupun AI mampu mengurangi pekerjaan repetitif dan bernilai rendah, survei para pengembang mencatat bahwa tingkat kualitas perangkat lunak yang dihasilkan masih berada di kisaran 60%.
Upaya untuk mengatasi isu kualitas menjadi beban kerja tambahan, termasuk tantangan dalam mengintegrasikan berbagai alat AI ke dalam alur kerja yang sudah ada. Platform low-code berbasis AI berperan menjembatani kesenjangan tersebut dengan mengombinasikan otomatisasi cerdas dan tata kelola yang terintegrasi. Seiring meningkatnya penggunaan di kalangan perusahaan, platform ini berpotensi memberdayakan para pengembang, meningkatkan keterlibatan kerja, serta menurunkan risiko burnout secara signifikan.
