FINETIKS: Kesehatan Finansial Karyawan Pengaruhi Bisnis Perusahaan

FINETIKS baru-baru ini via rilis menyampaikan kesehatan finansial karyawan memengaruhi bisnis perusahaan. FINETIKS mengatakan para karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan berkolaborasi secara optimal dus menghasilkan produktivtas yang rendah bagi berbagai perusahaan tempat mereka bekerja. FINETIKS pun menawarkan MONEY BOSS, prgoram edukasi dan implementasi strategi keuangan, untuk membantu kesehatan finansial mereka.

FINETIKS membagikan sejumlah temuan dari survei terbaru yang dilakukannya sebagai platform pengelolaan keuangan pribadi dengan aplikasi yang bisa diunduh dari Google Play maupun App Store. FINETIKS menyebutkan 56% karyawan profesional tidak memiliki dana darurat yang memadai, sedangkan 72% karyawan profesional mengaku kondisi finansial mereka berdampak langsung pada performa kerja.

Selain itu, FINETIKS mengutarakan sekitar 58% responden mengaku harus menunda kebutuhan penting akibat keterbatasan arus kas dan 51% responden masih memiliki utang konsumtif aktif, termasuk paylater, kartu kredit, dan pinjaman daring. Menariknya, FINETIKS menemukan banyak karyawan profesional yang menyadari akan masalah ini. FINETIKS mengungkapkan 93% responden menyatakan perihal kebutuhan akan program kesehatan finansial (financial wellness) dari perusahaan.

“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan. Alhasil, kesehatan finansial karyawan menjadi risiko bisnis ‘tersembunyi’ yang dampaknya bisa signifikan,” ujar Cameron Goh (CEO FINETIKS).

“Dampaknya terhadap perusahaan tidak bisa diabaikan. Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, hingga berkolaborasi secara optimal. Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena ‘presenteeism’, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif. Dalam jangka panjang, situasi ini juga berpotensi meningkatkan risiko turnover yang menciptakan biaya produktivitas tersembunyi yang tidak terlihat dalam laporan kinerja, serta tidak tercapainya target perusahaan akibat rendahnya produktivitas,” tambahnya.

Merupakan survei lintas industri yang dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026, FINETIKS memastikan pola temuan yang dimaksud diperoleh secara konsisten di berbagai industri. Pada sektor kreatif misalnya, seluruh responden alias 100% responden mengaku mengalami stres keuangan. Begitu pula pada sektor pendidikan yang mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi sebesar 69% responden, sektor media digital yang menunjukkan tingkat tekanan yang tinggi dengan 74% responden terdampak, serta sektor teknologi yang sekitar 50% responden masih memiliki utang konsumtif aktif.

FINETIKS menegaskan temuan-temuan tersebut menunjukkan pendekatan terhadap kesehatan finansial perlu bergeser dari sekadar edukasi menjadi solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, seperti yang telah disampaikan, FINETIKS menghadirkan MONEY BOSS: Employee Financial Wellness Program. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, melainkan juga membantu karyawan mengimplementasikan strategi keuangan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“FINETIKS menilai bahwa program yang efektif harus mampu mendorong perubahan perilaku finansial, mulai dari pengelolaan cash flow, pembentukan dana darurat, hingga implementasi sistem tabungan otomatis dan pendampingan jangka panjang. Perusahaan yang mengintegrasikan financial wellness sebagai bagian dari strategi human capital akan memiliki keunggulan dalam menjaga produktivitas dan loyalitas karyawan di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks,” pungkas Cameron.