SUSE Luncurkan Cloud Sovereignty Framework Self Assessment: Mudahkan Penilaian

SUSE baru-baru ini mengumumkan via rilis peluncuran perkakas untuk penilaian kedaulatan cloud secara mandiri (cloud sovereignty self assessment), tepatnya Cloud Sovereignty Framework Self Assessment. SUSE menyebutkan perkakas ini memudahkan para organisasi di Asia-Pacific melakukan penilaian mandiri akan infrastruktur AI (artificial intelligence) mereka berdasarkan EU Cloud Sovereignty Framework 2025. Para organisasi tersebut doklaim bisa melakukannya dalam 20 menit melalui platform penilaian mandiri berbasis web.

SUSE menjelaskan Cloud Sovereignty Framework Self Assessment menyediakan nilai SEAL (Sovereignty Effective Assurance Levels) yang objektif, suatu cara untuk mengukur tingkat kedaulatan sebuah organisasi berdasarkan delapan tujuan yang ditetapkan oleh EU Cloud Sovereignty Framework 2025. SUSE menegaskan Cloud Sovereignty Framework Self Assessment bisa membantu para organisasi memahami celah dalam strategi digital mereka, khususnya dalam mempersiapkan peta jalan teknologi masa depan menuju AI yang berdaulat (sovereign AI).

“Organisasi di seluruh dunia menghadapi masalah ‘black box’ dalam hal kedaulatan digital, yang menciptakan risiko tersembunyi yang signifikan,” ujar Andreas Prins (Head of Global Sovereign Solutions, SUSE). “Cloud Sovereignty merupakan fondasi utama bagi Sovereign AI, karena sebuah model AI hanya dapat benar-benar bersifat otonomi apabila infrastruktur cloud di baliknya menyediakan residensi data yang terlokalisasi dan kontrol operasional yang memadai.”

“Tanpa cloud stack yang berdaulat, organisasi berisiko menghadapi masalah ‘black box’ di mana model AI dan data mereka tetap berada pada yurisdiksi eksternal, ketergantungan pada satu vendor, serta kerentanan dalam rantai pasok. Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan di kawasan Asia-Pacific terhadap isu Kedaulatan Digital dan Sovereign AI, membangun fondasi yang tepat mulai sekarang akan memberdayakan perusahaan untuk mengoptimalkan roadmap teknologi mereka agar tetap kompetitif secara global,” lanjutnya.

SUSE menambahkan bahwa menurut Forrester kedaulatan digital dan AI akan menggandakan pertumbuhan private cloud secara year-on-year pada tahun 2026. SUSE menambahkan pula bahwa dengan makin banyaknya kerangka kerja kedaulatan digital yang diperkenalkan di berbagai negara dus lanskap regulasi yang terus berubah, para organisasi berisiko kehilangan kelayakan operasional jika tidak memiliki kontrol yang terbukti dan terlokalisasi atas stack teknologi AI mereka. SUSE Cloud Sovereignty Framework Self Assessment bisa membantu.

Terdapat sejumlah fitur utama Cloud Sovereignty Framework Self Assessment yang diklaim SUSE bagi para organisasi di Asia-Pacific. Berikut ini adalah fitur-fitur utama SUSE Cloud Sovereignty Framework Self Assessment tersebut, seperti yang dikutip dari rilis.

  • Benchmark SEAL: memetakan infrastruktur AI ke dalam lima tingkat (SEAL 0–4), sehingga suatu organisasi bisa menyelaraskan diri dengan persyaratan sektor publik internasional.
  • Targeted Risk Analysis: mengevaluasi delapan tujuan kedaulatan, khususnya pada keamanan rantai pasok (20%) dan otonomi operasional (15%).
  • Privacy-First and Secure: hasil penilaian disimpan hanya di peramban sang pengguna. Pendekatan yang mengutamakan privasi ini sangat penting bagi para organisasi dengan tingkat keamanan tinggi agar bisa berpartisipasi tanpa khawatir adanya kebocoran data.
  • Strategic Roadmap: mengubah percakapan yang masih abstrak menjadi rencana peningkatan yang konkret dan bisa diunduh dalam format PDF, sebagai panduan bagi investasi TI pada masa depan.