Sambut Ramadan 2026, ngaji.ai minggu lalu di Jakarta menyampaikan transformasinya dari aplikasi belajar mengaji berbasis AI (artificial intelligence) menjadi pendamping ibadah harian umat Islam. ngaji.ai mengeklaim hal tersebut menjawab kebutuhan para muslim akan pendamping ibadah yang kontekstual untuk membantu mereka beribadah dengan cara yang lebih dekat, terarah, dan relevan dengan kehidupan modern. Memberikan kemudahan akses via smartphone, ngaji.ai menghadirkan fitur-fitur baru mendukung transformasi ini.
“ngaji.ai itu berda, ber, berangkat dari kebutuhan tuh yang sangat mendasar sebenarnya: gimana caranya bikin belajar ngaji lebih mudah dan lebih menyenangkan? Tapi pada seiring dengan berjalannya waktu, kami bertumbuh bersama pengguna-pengguna kami, ter, termasuk dengan teman-teman di sini sekalian ya. Dari situ kami belajar bahwa tantangan umat muslim hari ini itu bukan cuma soal bisa ngaji atau nggak bisa, tapi juga gimana caranya kita menjaga niat, menjaga konsistensi, dan tetap khusyuk untuk beribadah di tengah hidup yang semakin sibuk dan penuh distraksi,” ujar Vanya Sunanto (COO Vokal.ai).
“Jadi dari refleksi tersebut, kami terus berevolusi, sampai hari ini kami ingin berbagi tentang arah kami ke depannya itu mau kemana sih,” lanjut Vanya. “Jadi kami mau menggunakan teknologi, bukan cuma untuk, bukan untuk menggurui atau memaksa orang untuk beribadah, tapi gimana caranya kami bisa jadi pendamping ibadah umat muslim sehari-hari, dan bagaimana kami bersiap untuk selanjutnya bertumbuh lebih jauh lagi.”
Seperti telah disebutkan, ngaji.ai yang dikembangkan Vokal.ai ini berawal sebagai aplikasi belajar mengaji berbasis AI. ngaji.ai menjelaskan awalnya hadir untuk menjawab “ketakutan” mereka yang ingin belajar mengaji, tetapi merasa terlambat (misalnya sudah tidak muda), takut salah, tidak suka digurui, bingung mulai dari mana, maupun kesulitan waktu. ngaji.ai mengeklaim menyediakan material pembelajaran yang lengkap, termasuk penilaian pengucapan yang dilakukan oleh AI. Berhubung AI yang menilai, pengguna misalnya bisa belajar mengucapkan terus-menerus tanpa takut atau malu sering salah.
“Ini adalah sebuah angka, 72% umat muslim di Indonesia tidak bisa baca Al-Qur’an. Ini menurut data dari Dewan Masjid Indonesia bulan Desember 2023. Di sini kesulitannya bukan hanya kesulitan untuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga untuk kesempatan belajar. Mereka pengen belajar, tapi mereka ada yang merasa terlambat, lalu takut salah, gak tahu harus mulai dari mana, dan gak mau terlalu digurui gitu,” kata R. Adhitya Zulfan (Head of Marketing Vokal.ai). “Jadi ngaji.ai hadir untuk menghilangkan rasa takut itu awalnya.”
“Lalu tentu saja kami mempelajari beberapa hal, beberapa hal yang dipelajari dari peng, para pengguna.Pengguna membuka ngaji.ai bukan hanya untuk belajar, mereka juga ternyata membuka ngaji.ai di sekitar waktu sholat mereka, rutinitas harian, dan momen-momen personal,” sambung Adhitya sembari menambahkan hal ini turut mendasari transformasi ngaji.ai dari aplikasi belajar mengaji berbasis AI menjadi teman ibadah harian umat Islam di tanah air.
Adapun transformasi yang dilakukan, ngaji.ai menjelaskan transformasi yang paling terasa adalah pengembangan tampilan homepage serta kehadiran sejumlah fitur baru pada aplikasi. Fitur-fitur baru ini adalah Sholat, Doa, Dzikir, dan Ikhtiar. Dua fitur baru yang paling dikedepankan ngaji.ai adalah Sholat dan Ikhtiar. Sebelumnya, ngaji.ai menyampaikan sudah memiliki beberapa fitur tambahan selain untuk belajar mengaji. Fitur-fitur baru ini sewajarnya melengkapi fasilitas ngaji.ai.
ngaji.ai menyebutkan Sholat ditujukan untuk membantu para pengguna “absen” ibadah wajib lima kali seharinya. Sementara itu, ngaji.ai mengatakan melalui Ikhtiar, para pengguna tidak dihadapkan pada daftar panjang amalan yang melelahkan, melainkan diajak memilih satu fokus ikhtiar. Fokus ini pun bisa sesederhana menjaga lisan, lebih disiplin salat tepat waktu, atau meluangkan waktu untuk zikir harian. ngaji.ai menambahkan setiap ikhtiar dibagi ke dalam tugas-tugas kecil selama 7 hari, membuat prosesnya terasa ringan dan realistis.
Bisa diperleh dari Google Play maupun App Store, ngaji.ai menegaskan tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting. ngaji.ai berencana untuk menjalin kerja sama strategis dengan lebih banyak institusi bisnis dan pemerintah pada tahun ini. Lebih jauh ke depannya lagi, ngaji.ai menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk melirik pasar Asia Tenggara, wilayah dengan sekitar 290 juta populasi Muslim. Apalagi dengan meningkatnya adopsi teknologi AI, cara orang belajar dan beribadah ikut berubah pula.
